Indonesia mengalami proses panjang sebelum terbentuk menjadi sebuah negara besar dengan mayoritas penduduknya yang beragam Islam.

Saat Wali Songo mulai menyebarkan agama Islam, lalu menggabungkan dengan tradisi setempat, asimilasi penyebaran Islam melahirkan salah satunya adalah Garebeg atau yang lebih dikenal sebagai festival tahunan Sekaten dalam rangka maulud Nabi Muhammad SAW. Keragaman ini terasa berbeda di setiap pulau, namun tetap memiliki akar satu yang cukup kuat.

Jauh sebelum itu, pada tahun 30 Hijri atau 651 Masehi atau duapuluh tahun wafat Rasulullah SAW, Khalifah Utsman ibn Affan mengirim delegasi ke China untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Selama empat tahun perjalanan, utusan Utsman ternyata sempat singgah di daerah kepulauan, tepatnya di pulau Sumatera. Kemudian Dinasti Umayyah memulai perdagangan dengan penduduk di pantai barat Sumatera. Inilah awalnya penduduk Indonesia memeluk agama Islam. Sejak itu pelaut dan pedagang muslim terus berdatangan dengan membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini selain juga berdakwah. Lalu di Aceh, kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yaitu Kerajaan Pasai. Marcopolo juga pernah menyebutkan bahwa ia pernah singgah di Pasai tahun pada tahun 692 H / 1292 M di saat telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi, menuliskan berita saat ia singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M; ia menulis bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi’i.

Sebagai bukti penyebaran agama Islam di Indonesia, bukti tertua terdapat di Gresik, Jawa Timur yaitu kompleks makam Islam, dengan makam tertua Fathimah binti Maimun yang berusia 475H (1082 M) saat masih berdiri Kerajaan SIngasari. Dari bentuk makam ini, terlihat bahwa bentuknya bukan buatan penduduk asli, tetapi makam yang dibuat oleh para pedagang Arab.

Sampai abad ke-8 H atau 14 M, pengislaman penduduk pribumi masih berlangsung sporadis, namun pada abad ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Indonesia secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti. Hal ini terbukti dengan berdirinya kerajaan berlatarbelakang Islam yang kental seperti Kerajaan Ternate, Aceh Darussalam, Demak, Cirebon, Malaka. Para penguasa kerajaan-kerajaan ini kebanyakan berdarah campuran, keturunan raja-raja pribumi pra-Islam dan para pendatang Arab. Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya dan Sunda. Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan cara berperang atau usaha merebut kekuasaan kerajaan yang sudah ada.

Inskripsi Islam Tertua Di Indonesia

Kode buku: K01CGLK01
Pengarang: Claude Guillot & Ludvik Kalus
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Halaman: 181
Harga toko: Rp 25.000,- (HARGA INIBUKU Rp 21.250,-)
Kategori: sejarah

Deskripsi : Masuknya Islam merupakan salah satu perubahan terbesar sepanjang sejarah Nusantara. Kendati demikian, sejarah periode itu tertutup kabut legenda epik maupun babad dan hikayat yang bertujuan politis. Buku ini menyingkap kabut sejarah masuknya Islam ke Nusantara dengan memakai epigrafi-epigrafi (inskripsi) Islam sebelum abad ke-17.

Telaah inskripsi ini mengguggurkan banyak hal yang selama ini kadung diterima sebagai fakta sejarah masukknya Islam di Nusantara.

Salah satu contoh adalah dugaan bahwa Sunan Kudus merupakan sosok anonim di antara Wali Songo. Buku ini memperlihatkan bahwa Sunan Kudus ialah pemimpin gerakan Islam radikal. Ia bahkan pernah berjuang mendirikan negara agama sendiri ketika Kerajaan Demak dilanda Islam moderat. Kejutan lain ketika terungkap bahwa batu-batu nisan Leran yang dianggap sebagai gelagat kehadiran agama Islam di Jawa, ternyata tiba di Jawa karena pernah dipindahkan dari tempat asal sebagai tolak bara (pemberat kapal) dan jangkar.

***

Dengan masuknya Islamn penduduk pribumi Nusantara serta terbentuknya pemerintahan-pemerintahan Islam di berbagai daerah kepulauan ini, perdagangan dengan kaum Muslimin dari pusat dunia Islam menjadi semakin erat. Orang Arab yang bermigrasi ke Nusantara juga semakin banyak. Yang terbesar diantaranya adalah berasal dari Hadramaut, Yaman. Dalam Tarikh Hadramaut, migrasi ini bahkan dikatakan sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Hadramaut. Namun setelah bangsa-bangsa Eropa Nasrani berdatangan dan dengan rakusnya menguasai daerah-demi daerah di Nusantara, hubungan dengan pusat dunia Islam seakan terputus. Terutama di abad ke 17 dan 18 Masehi. Penyebabnya, selain karena kaum Muslimin Nusantara disibukkan oleh perlawanan menentang penjajahan, juga karena berbagai peraturan yang diciptakan oleh kaum kolonialis. Setiap kali para penjajah – terutama Belanda – menundukkan kerajaan Islam di Nusantara, mereka pasti menyodorkan perjanjian yang isinya melarang kerajaan tersebut berhubungan dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka. Maka terputuslah hubungan ummat Islam Nusantara dengan ummat Islam dari bangsa-bangsa lain yang telah terjalin beratus-ratus tahun. Keinginan kaum kolonialis untuk menjauhkan ummat Islam Nusantara dengan akarnya, juga terlihat dari kebijakan mereka yang mempersulit pembauran antara orang Arab dengan pribumi.

Semenjak awal datangnya bangsa Eropa pada akhir abad ke-15 Masehi ke kepulauan subur makmur ini, memang sudah terlihat sifat rakus mereka untuk menguasai. Apalagi mereka mendapati kenyataan bahwa penduduk kepulauan ini telah memeluk Islam, agama seteru mereka, sehingga semangat Perang Salib pun selalu dibawa-bawa setiap kali mereka menundukkan suatu daerah. Dalam memerangi Islam mereka bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan pribumi yang masih menganut Hindu / Budha. Satu contoh, untuk memutuskan jalur pelayaran kaum Muslimin, maka setelah menguasai Malaka pada tahun 1511, Portugis menjalin kerjasama dengan Kerajaan Sunda Pajajaran untuk membangun sebuah pangkalan di Sunda Kelapa. Namun maksud Portugis ini gagal total setelah pasukan gabungan Islam dari sepanjang pesisir utara Pulau Jawa bahu membahu menggempur mereka pada tahun 1527 M. Pertempuran besar yang bersejarah ini dipimpin oleh seorang putra Aceh berdarah Arab Gujarat, yaitu Fadhilah Khan Al-Pasai, yang lebih terkenal dengan gelarnya, Fathahillah. Sebelum menjadi orang penting di tiga kerajaan Islam Jawa, yakni Demak, Cirebon dan Banten, Fathahillah sempat berguru di Makkah. Bahkan ikut mempertahankan Makkah dari serbuan Turki Utsmani.

Kedatangan kaum kolonialis di satu sisi telah membangkitkan semangat jihad kaum muslimin Nusantara, namun di sisi lain membuat pendalaman akidah Islam tidak merata. Hanya kalangan pesantren (madrasah) saja yang mendalami keislaman, itupun biasanya terbatas pada mazhab Syafi’i. Sedangkan pada kaum Muslimin kebanyakan, terjadi percampuran akidah dengan tradisi pra Islam. Kalangan priyayi yang dekat dengan Belanda malah sudah terjangkiti gaya hidup Eropa. Kondisi seperti ini setidaknya masih terjadi hingga sekarang. Terlepas dari hal ini, ulama-ulama Nusantara adalah orang-orang yang gigih menentang penjajahan. Meskipun banyak diantara mereka yang berasal dari kalangan tarekat, namun justru kalangan tarekat inilah yang sering bangkit melawan penjajah. Dan meski pada akhirnya setiap perlawanan ini berhasil ditumpas dengan taktik licik, namun sejarah telah mencatat jutaan syuhada Nusantara yang gugur pada berbagai pertempuran melawan Belanda. Sejak perlawanan kerajaan-kerajaan Islam di abad 16 dan 17 seperti Malaka (Malaysia), Sulu (Filipina), Pasai, Banten, Sunda Kelapa, Makassar, Ternate, hingga perlawanan para ulama di abad 18 seperti Perang Cirebon (Bagus rangin), Perang Jawa (Diponegoro), Perang Padri (Imam Bonjol), dan Perang Aceh (Teuku Umar).