You are currently browsing the category archive for the ‘Hikmah Ibadah’ category.

Meraih Kenikmatan Ibadah

Amru Khalid, Embun Publishing, 288 halaman

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (adz-Dzaariyaat [51]: 56) Kita diciptakan untuk beribadah kepada Allah swt. dan tidak kita mungkiri bahwa kita beribadah untuk melaksanakan kewajiban dan takut akan siksa neraka. Hal ini tidaklah salah, namun terkadang atau mungkin kerap kali kita merasakan beban psikologis yang sangat berat untuk beribadah. Alih-alih merasa terbebani inilah seluruh kenikmatan yang seharusnya kita rasakan ketika beribadah, hilang atau semakin jauh. Seakan-akan, kenikmatan itu berada di langit yang ketujuh sementara kita tertelungkup di bumi dengan tangan yang menggapai-gapai. Inilah yang menjadi latar belakang penulisan buku ini. Penulis menyampaikan substansi ibadah dan pahala yang dikandungnya secara gamblang, sebagaimana yang telah dipaparkan oleh Rasulullah kepada generasi pertama umat Islam. Substansi ibadah dan pahala yang dijanjikan, yang membuat orang-orang saleh senang berasyik-mansyuk dengan ibadah hingga mereka dapat merasakan manisnya ibadah dan meneguk seluruh kesegarannya serta meraih kenikmatannya yang multikompleks.

Energi Salat

Afzalur Rahman dan Murtadha Muthahhri, Serambi, Agustus 2007, 234 halaman

Gali Makna, Genggam Ketenangan Jiwa

Sudahkah salat kita mengekang hasrat untuk merusak?
Sudahkah salat kita mencegah keinginan untuk korupsi?
Sudahkah salat kita membangkitkan energi terpendam kita?

Salat adalah hadiah terindah dari Allah. Afzalur Rahman menegaskan bahwa cara tercepat meraih rahmat adalah salat. Ada hubungan erat antara gerakan salat dan rahmat Allah. Bacaan ayat dan doa kala kita salat pun berdampak luar biasa pada kekuatan mental kita. Ayat-ayat yang kita baca menghasilkan pengaruh radionik sehingga timbul energi tak kasatmata dalam diri kita. Semua itu dapat terjadi asalkan tata cara, bacaan, dan penghayatan kita selaras dengan yang diajarkan Nabi.

Bagian kedua buku ini memuat pembahasan Syekh Muthahhari tentang intisari salat. Dengan gaya tutur sederhana dan mudah dimengerti, Muthahhari menguraikan bahwa salat berfungsi membentuk sifat dan kepribadian manusia. Salat tak hanya mencerminkan hubungan pribadi kita dengan Allah, tapi juga harus berdampak sosial. Salat—yang kita awali dengan pengagungan Allah (takbîr)—harus kita pungkasi dengan menebarkan kedamaian (salâm) bagi seluruh alam.

Buku dari dua tokoh muslim ternama ini mengandung banyak saripati makna dan hikmah seputar salat, mulai dari disiplin waktu, wudu, azan, bangun malam, niat, gerakan-gerakan, hingga tafsir surah Al-Fâtihah. Sangat layak menemani Anda meraih ketenangan jiwa!

Energi Ibadah

Syekh Tosun Bayrak dan Murtadha Muthahhri, Serambi, Agustus 2007, 246 halaman

Dalam buku yang sangat berharga ini, Murtadha Muthahhari menjelaskan makna sejati ibadah. Menurutnya, ibadah adalah jantung kehidupan. Ibadah merupakan ketetapan langit yang dilengkapi dimensi keduniaan. Segala bentuk ibadah mengandung sisi pribadi sekaligus ciri sosial yang kental. Karenanya, jika kita rajin beribadah namun tidak memiliki kepekaan sosial, ibadah kita tidaklah bermakna. Jika kita taat beribadah kepada Allah namun masih mengabaikan bahkan memerkosa hak-hak orang lain, ibadah kita sia-sia belaka.

Senada dengan Muthahhari, pada bagian kedua buku ini, Syekh Tosun Bayrak menguraikan betapa ibadah merupakan aktivitas pendekatan diri yang mesti berbuah kasih sayang pada sesama. Lebih jauh, Syekh Tosun memaparkan prinsip-prinsip penting yang harus kita pegangi dalam beribadah, juga hikmah luar biasa di balik ibadah-ibadah utama (salat, zakat, puasa, dan haji).

Buku ini membantu Anda memperdalam makna ibadah yang saban hari Anda jalani. Dengan semakin kaya makna, semakin mudah Anda menghayati ibadah. Buku ini juga bisa membantu Anda menakar kualitas ibadah dan memaksimalkan energi penghambaan diri kepada Ilahi.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.