You are currently browsing the category archive for the 'Humor Jenaka' category.

Kisah Jenaka Juha 2 (Humor)

Dr. Darwish Juwaidiy, Embun Publishing

Menurut penulis humor terkenal, Jailak Taufik Bek, pemilik koran “Hambagar Aqli Tatar” dalam mukaddimah kitabnya “Lathaaif Nasruddin” menerangkan bahwa Juha adalah orang dari kerajaan Yelderam Bayazidkhan. Ia pergi ke Astanah yang merupakan salah seorang keturunan dari sana. Pada masa pemerintahan raja Murad ke-3 untuk meneliti keadaan wakaf dan gaji yang dipindahkan. Ketika Juha hendak menyerahkan hasil pemeriksaannya kepada raja, ia mengikat keledainya di genderang raksasa, yang ada di sekitar istana. Keledainya meronta dan menarik genderang, setiap kali genderang itu terseret di tanah dan mengeluarkan suara keras, keledainya bertambah panik dan ketakutan. Kebetulan di sana ada seekor anak kuda yang juga terjatuh sehingga meringkik keras. Para pengawal kerajaan bertanya, “Apa yang terjadi.” Mereka mencari orang yang mengikat keledai pada genderang. Ada yang memberi tahu bahwa orang itu adalah keturunan Nasruddin. Pertanyaan itu disambut dengan ucapan, “Lihatlah perbuatannya, itu merupakan bukti yang cukup untuk membuktikan bahwa ia adalah ‘keturunan Nasruddin’.”

Kisah Jenaka Juha 1 (Humor)

Dr. Darwish Juwaidiy, Embun Publishing, Februari 2006, 160

Suatu hari Syeh Nasrudin Afandi duduk di atas kursi mimbar sebuah masjid kota Aq Syahar dan berkata, “Wahai orang-orang yang beriman, apakah kalian tahu apa yang akan aku sampaikan pada kalian?” Para hadirin menjawab, “Tidak, kami tidak tahu.” Lalu Nasrudin berkata, “Apabila kalian tidak tahu, maka tidak ada gunanya aku berbicara.” Lalu ia pun turun dari kursi. Keesokan harinya ia kembali lagi, dan melontarkan pertanyaan yang sama kepada hadirin, kali ini mereka menjawab, “Ya, kami sudah tahu.” Kemudian ia berkata, “Kalau kalian sudah tahu, untuk apa aku bicara lagi.” Para hadirin berembuk untuk membuat kesepakatan di antara mereka, bahwa apabila pertanyaan yang sama dilontarkan kepada mereka, maka mereka akan menjawab dengan dua jawaban bervariasi, sebagian menjawab tidak tahu dan sebagian lagi menjawab sudah tahu. Ketika untuk ketiga kalinya Syeh Nasrudin Afandi bertanya kepada mereka dengan pertanyaan yang sama, maka terdengar jawaban yang berbeda di antara hadirin, antara tidak dan sudah. Lalu ia berkata, “Bagus sekali, berarti yang sudah tahu memberitahu yang belum tahu.”