Blok I

Uli Mahtuhah, Matapena, April 2007, viii + 206 hlm

Ada beberapa alasan kenapa Renata tidak bisa menikmati kehidupan barunya di blok i. Pertama, ibarat perumahan, blok i lebih pantas disebut sebagai gudang dan lebih sederhana dari RSSS. Jauh dari bayangan menyenangkan. Enggak bisa bebas, selalu terkekang, dan kalau mau ngapa-ngapa harus izin.

Kedua, harus tinggal bersama penghuninya yang overkuota, lima puluh empat anak. Padahal sebelumnya Re bisa merajai kamarnya yang luas seorang diri.

Ketiga, rebut! Ini salah satu cirri khas blok I dengan jumlah penghuni yang overkuota itu. Suasana yang membuat Re tidak bisa menghafal rumus matematika dan fisika. Apalagi waktunya menjelang sekolah. Ada yang sibuk menyiapkan jadwal pelajaran. Ada yang antri memakai cermin untuk berdandan atau sekadar membenarkan letak jilbab yang rusak. Tapi, ada juga yang masih santai sarapan sambil mendengarkan lagu-lagu India dari radio–satu-satunya alat elektronika yang boleh dibawa ke pesantren.

Keempat, si rese maula. Makhluk aneh yang tidak pernah bisa bersikap manis sejak kedatangan Re di blok i. makhluk yang membuat Re merasa tak ada gunanya terus bertahan di blok i.

Kelima, Re kehabisan jawaban, bagaimana ia bisa bertahan?