Bola-Bola Santri

Shachree M. Daroini, Matapena, Agustus 2005, vi + 380 hlm

Ngomong-ngomong soal pesantren, pernah kan membayangkan bentuk kehidupan yang berlangsung di dalamnya? Mulai dari kiai dan keluarganya, para santri, sampai orang-orang yang tinggal di sekitaran pesantren?

Dalam beberapa bagian, memang sih tidak ada bedanya dengan kehidupan yang berlangsung di lingkungan kita. Tapi, tetep aja ada bagian-bagian yang berbeda dan “mengunik”. Apalagi jika pesantren itu terletak di pelosok, belum kenal dengan modernitas, dan menerapkan sistem pendidikan salaf, tradisional.

Nah, novel Bola-Bola Santri bermaksud merangkum keunikan-keunikan itu. Novel ini berbicara jujur soal apa yang terjadi dan tak pernah berhenti, terus menggelinding ibarat bola, tentang kehidupan di dalam sebuah pesantren. Dari kelahiran, saat-saat tumbuh dan berubah, dan kematian.

Novel ini juga menunjukkan, konflik perebutan warisan dan kekuasaan tetap bisa ditemukan di dalam pesantren. Bersilih ganti dengan cerita petualangan tiga putera mahkota, Gus Hisyam, Gus Mada, dan Gus Munir, dengan segudang kharisma kegusan mereka. Juga, dengan kelompok sepakbola mereka yang apa adanya, demi mempertahankan nama besar pesantren sang kakek, di mata para penduduk kampung.🙂