Diary Hitam Putih

Restu RA, Matapena, Mei 2007, vi + 198 hlm

“Pak Kiai, Riyan adalah anak kami satu-satunya.”

Itulah kata yang pertama kali diucapkan oleh bapak di depan orang karismatik yang berpakaian serba putih, kali pertama aku menginjakkan kaki di pesantren ini. Sedikit demi sedikit, meluncurlah kisah kelamku dari mulut bapak. Kurasakan gemetar suaranya menyayat hatiku, pilu dan ngilu. Tak luput dari penuturannya pula, tentang aku yang suka mabuk-mabukan dengan ramuan la’ang.

Yah, hidup memang punya banyak dimensi. Aku harus pandai memilih, antara sisi hitam dan sisi putih, agar selalu selamat. Aku bersyukur, Tuhan menakdirkan lain atas perjalanan hidupku. Dari hitam pekat dan buta menjadi putih terang cerah.

Meskipun pada akhirnya aku tahu, ternyata tidak mudah untuk menjadi orang baik. Walau sudah kucoba untuk tidak menuruti kehendak nafsu yang tak rela keinginannya terenggut begitu saja, aku masih harus berjuang untuk menjadi diri yang putih di mata orang lain.