Laskar Hizib

Mahbub Jamaluddin, Matapena, Juni 2007, viii + 276 hlm

Laskar Hizib adalah nama klub sepak bola api anak-anak kamar Purworejo di Pesantren Syadziliyah. Klub yang memenangkan tropi kaki api pada pertandingan sebelumnya ini terkenal dengan tim intinya yang handal. Yaitu, Kang Aku dan Mbah Mushonnef, di bawah pelatihan Kang Mus-Toa. Dan, mereka bertekad untuk mempertahankan tropi itu pada pertandingan bola api tahun ini.

Tapi, masalah datang, dengan kehadiran Gus Kapsul. Santri baru, cucu Simbah Kiai Sugiri yang mbeling, egois, dan berpenampilan pas-pasan. Pada mulanya Gus Kapsul tidak tertarik dengan sepak bola api, sebelum dia kenal Farida dan tahu kalau santriwati cantik itu suka menonton pertandingan dari lantai dua pondok puteri.

Akal licik pun diatur, strategi dilancarkan untuk membuat dirinya bisa dimasukkan dalam tim. Mengingat Gus Kapsul sebenarnya tidak punya skill sama sekali. Tapi, malang akal-akalan Gus Kapsul membuat mencret pemain inti, justru menyebabkan Laskar Hizib gagal mendapatkan tropi bola api. Satu peristiwa yang sanggup memukul kecewa semua anggota kamar Purworejo, kecuali Gus Kapsul.

Sampai kemudian akal-akalan Gus Kapsul terbongkar, bersamaan dengan kenyataan pahit bahwa ternyata Farida adalah pacar Jamil, teman kamar Gus Kapsul sendiri. Gus Kapsul benar-benar terpuruk dan terpukul. Tapi, kondisi ini justru menjadi titik balik untuk Laskar Hizib perlahan mulai bangkit dan menjadi solid. Kenyataan yang juga ikut memompa Gus Kapsul untuk mengasah skill persepakbolaannya, demi menebus semua kesalahannya pada Laskar Hizib.

Tapi, bagaimana mungkin Laskar Hizib berhasil memenangkan tropi kaki api, kalau ternyata kemudian pertandingan sepak bola api malah dilarang di Pesantren Syadziliyah gara-gara keributan antara Jahlun-Cirebon dengan Dzaliman-Semarang?

Persoalan kembali muncul. Tapi, bukan bola namanya kalau tidak bulat, dan bisa ditendang dari sisi mana pun! Ia akan melesat dengan kekuatan yang berlipat dibanding energi tendangan. Begitu juga tekad yang bulat! Ada sedikit energi saja yang merangsangnya, tekad akan melesat. Menerjang apa saja! Termasuk menerjang untuk mendapatkan tropi itu. Jadi, tidak semata tergantung pada rapalan mantra, hizib,

Dan, sesungguhnya bukan pemain sepak bola api jika tidak berani menendang bola yang terbuat dari api itu! Bola panas itu! Bukan hanya di lapangan! Di kehidupan nyata, para pemainnya juga harus berani menendang dan menentang bola kezaliman. Melawan bola kesewenang-wenangan. Meski itu panas! Meski itu berarti terbakar! Dan, Gus Kapsul berhasil membuktikan hal itu, hingga ia dan timnya pantas mendapatkan tropi kaki api.