Muhammad Sang Nabi – Penelusuran Sejarah Nabi Secara Detail

O. Hashem, Ufuk, 440 halaman

Muhammad Sang Nabi merupakan sebuah karya besar yang ditulis oleh seorang O. Hashem. Dalam runtutan yang dalam, ia uraikan sebuah diari lengkap dan catatan sejarah Sang Nabi dengan detail yang mungkin belum pernah ada sebelumnya.
Muhammad memang sangat pantas dan wajar menjadi Sang Nabi. Betapa tidak, dalam hidupnya tak pernah satu pun manusia (yang secara jujur) tidak mengakui kehebatan beliau. Lawan seakan tak percaya kalau Nabi adalah musuh mereka. Teman dan kawan yang dekat dengannya begitu menghargai dan mencintai bahkan melebihi anak, isteri dan orang tua mereka. Adakah sejarah setelahnya mencatat seorang manusia yang memiliki posisi seperti yang dimiliki Sang Nabi ini? Jawabnya adalah sebuah keniscayaan.

Ketokohan Muhammad bukan saja dibesarkan oleh para sahabat yang menjadi pengikut setia ajarannya, tetapi kebesaran dan kehebatan beliau itu diakui pula secara jujur oleh musuh-musuhnya. Michel Heart bahkan menulis dan mengabadikan kebesaran Muhammad sebagai orang nomor satu yang paling berpengaruh dibanding dengan tokoh-tokoh lain dalam sejarah peradaban manusia di dunia ini. Begitu pula Napoleon Bonaparte, karena mengagumi kehebatan Sang Nabi, dengan serta merta ia mengambil kebijakan dan prinsip-prinsip perang yang pernah dijalani Beliau. Kalau bukan sebuah kepribadian yang fantastis dan penuh kharisma, tentulah sebuah sikap dan perilaku yang lahir dari seseorang akan ditelan bahkan diterjang oleh badai zaman.

Sang Nabi memang sebuah fenomena. Ia berangkat dari akhlak mulia yang penuh tawadhu’ dan ikhlas semata karena Allah. Dari sinilah lahir sebuah keberanian tanpa pamrih. Keberanian karena sebuah kebenaran. Beliau tegar sebagai pemimpin dan tak goyah dihantam fitnah. Mulia di hadapan lawan. Isy Kariman aw mut syahiidan. Itulah Muhammad!
Satu hal lagi yang menjadikan Sang Nabi menjadi good example atau uswatun hasanah bagi peradaban manusia adalah kedispilinan dan kejujuran beliau dalam hubungan sosial. Pernah suatu ketika Sang Nabi dititipkan amanah oleh kafir quraisy yang sebelumnya adalah lawan di medan perang. Beliau tetap memelihara dan menjaga amanah itu dengan baik. Dalam hal aqidah, nabi Muhammad dimusuhi tetapi dalam kejujuran Beliaulah tempatnya.

Sebagai seorang manusia, Sang Nabi tetap memerankan fungsi-fungsi kemanusiaannya seperti manusia lain, namun Beliau melakukannya dengan added value di mana kita melakukannya dengan biasa-biasa saja.