Rahuvana Tattwa

Agus Sunyoto, LKIS, November 2006, lxii + 743

Sumber: http://leojuliawan.wordpress.com

“Kita semua tahu, bahkan sejak kecil, bahwa kebaikan pasti akan menang atas kejahatan. Yang perlu kita ketahui adalah bagaimana membedakan kebaikan dan kejahatan. Apakah Rahwana adalah kejahatan sedangkan di Alengka ia menjadi raja pelindung kebaikan kaumnya. Atau, apakah Rama adalah kebaikan sedangkan di akhir cerita ia membiarkan Sita yang sedang hamil terusir jauh ke hutan ke pertapaan Walmiki. Apakah justru Sita lah si kebaikan itu, karena ternyata Ramayana yang ditulis Walmiki menempatkan Rama sebagai kebaikan yang menang atas kejahatan.”

“Apa kebaikan dan kejahatan itu? Dimana ia berada? Dan, bagaimana ia berwujud? Mungkin ini jadi salah satu pertanyaan tersulit setiap sastrawan, karena sadar atau tidak kita dengan mudah menemukan Rahwana dan Rama berada dalam bayangan cermin kita sendiri.”

Meski telah membaca epik Ramayana dalam banyak versi, tetap ada beberapa pertanyaan yang mengganggu pikiran sang penulis, Agus Sunyoto. Pertama, sikap Rama terhadap Sita setelah pembebasan Sita dari cengkraman Rahwana dan bala tentara Alengka. Rama meragukan kesucian Sita. Bahkan membiarkan Sita melakukan upacara pembakaran diri untuk membuktikan kesuciannya. Meski telah terhindar dari api, Rama masih juga mengusir Sita yang sedang hamil ke hutan hingga istri yang malang itu tinggal di pertamaan Walmiki.

Mengapa Rama berlaku demikian keji pada istri yang mengasihinya. Ini jauh berbeda dibanding sikap Rahwana terhadap Sita. Selama ditahan di Alengka, oleh Rahwana, Sita ditempatkan di taman indah, dilayani dengan sangat baik. Rahwana tidak pernah berkata dan berlaku kasar terhadap Sita. Bahkan Rahwana selalu merayu Sita dengan kata-kata indah. Mengapa Rahwana yang digambarkan berwatak raksasa buas itu bisa berlaku halus terhadap wanita. Sebaliknya, mengapa Rama yang ksatria itu justru bertindak keji terhadap istrinya?

Pertanyaan kedua: dalam pertempuran besar antara Rahwana dan Rama, Rahwana dibela oleh ribuan tentara Alengka. Itu wajar, karena Rahwana adalah raja Alengka. Sedangkan Rama justru dibela oleh tentara monyet pimpinan Sugriwa dan Hanoman. Mengapa Rama tidak didukung oleh tentara Ayodya. Bukankah Rama adalah pangeran Ayodya. Mengapa untuk menggapai tujuannya merebut Sita (sebuah tujuan yang perlu dipertanyakan juga mengingat sikap Rama terhadap Sita di atas) Rama menggunakan bala tentara dari negara lain, yang notabene bukan manusia, melainkan makhluk yang dipandang rendah? Sebaliknya, Rahwana dibela mati-matian oleh penduduknya sendiri. Apakah ini menunjukkan bahwa betapa Rahwana sebenarnya adalah raja raksasa yang amat dicintai oleh warganya? Jika ya, maka pastilah Rahwana adalah raja yang baik, terpelajar dan agung.

Pertanyaan ketiga: dalam pertempuran antara Bali, raja Kiskenda, dengan Sugriwa, Rama melakukan tindakan yang tidak terpuji, yaitu membunuh Bali dari belakang. Sebagai ksatria, tindakan curang seperti itu sangat dipandang rendah. Terlebih lagi, setelah Bali wafat, tahta Kiskenda diserahkan pada Sugriwa. Kisah ini menggambarkan bahwa Rama membenarkan tindakan perebutan kekuasaan oleh Sugriwa secara licik. Itu kenapa kemudian Sugriwa dan bala tentara monyetnya mendukung Rama dalam pertempuran melawan pasukan Alengka, pimpinan Rahwana.

Meski Rahwana digambarkan sebagai makhluk raksasa yang mengerikan, bersifat liar, buas dan monster, tetapi Rahwana adalah sosok yang sakti luar biasa. Ia mempunyai berbagai ilmu dan kesaktian yang sulit ditaklukan. Darimana datangnya semua ajian itu? Tentu saja dari berguru pada banyak guru dan raja sakti, salah satunya Bali (yang dibunuh secara curang oleh Rama). Pertanyaan yang menggelitik, jika demikian tentunya Rahwana adalah seorang sarjana yang bukan hanya pandai belajar ilmu peperangan namun juga mempunyai pendalaman atas ilmu-ilmu sastra dan agama. Buktinya, para dewa-dewa berkenan menganugerahkan kesaktian rawerontek yang membuat Rahwana tidak bisa mati. Tanpa suatu tindakan sesembahan dan semadi yang luar biasa, takkan mungkin dewa-dewa berkenan memberikan berkah kepada Rahwana. Bukankah ini berarti Rahwana selain dicintai oleh rakyatnya, juga oleh berbagai cerdik pandai, guru-guru ternama, bahkan dicintai dewa-dewa? Lantas mengapa dalam Ramayana, Rahwana selalu digambarkan sebagai biang kerusakan, kejahatan di muka bumi?

Masih banyak pertanyaan dan keanehan-keanehan lain yang diungkap oleh sang penulis dalam setiap membaca kisah Ramayana. Sampai-sampai tercetus pikiran, jangan-jangan ada sesuatu rencana tersembunyi di balik semua kisah Ramayana? Ini pasti ada upaya pendiskreditan terhadap Rahwana.

***

Agus Sunyoto ingin memecahkan semua pertanyaan itu. Ia merekonstruksi dan menafsirkan ulang. Hasilnya, sebuah novel berjudul Rahuvana Tattwa: kisah sang Ravana.

Dalam rekonstruksinya, Agus Sunyoto tidak memulai ceritanya dengan penjelasan tentang mitologi India. Agus Sunyoto bergerak cukup jauh ke utara, melintasi daratan Cina, ke Eropa. Merambah mitologi Norse, seperti Thor, Yggdrasill, Odin, Fenrir, juga mitologi Yunani dan lain-lain, yang berujung pada larinya sang Dewa Indra dari khasanah otoritas mitologi Eropa, berkelana bersama bangsa Arya barbar berkulit putih, yang kemudian menemukan benua Jambhudwipa, alias India yang elok. Melihat keindahan negara Jambhudwipa yang subur dan maju ini, bangsa Arya pimpinan Indra kemudian beralih dari bangsa barbar pengembara menjadi bangsa pemukim. Untuk mewujudkan hal ini, Indra dan Arya menginvasi dan menaklukan penduduk Jambhudwipa yang berkulit hitam. Indra lalu menghancurkan dewa-dewi sesembahan penduduk Jambhudwipa dan mengangkat dirinya sebagai dewa tertinggi. Perlahan tapi pasti, bangsa asli Jambhudwipa tersisih. Mereka tersingkir dari pusat-pusat kekuasaan Jambhudwipa. Tak sedikit yang beralih keyakinan dari pemuja Siva menjadi pemuja Indra.

Indra dan Arya tak hanya puas menaklukan Jambhudwipa. Mereka terus bergerak ke Selatan, Timur dan Barat, bahkan sampai ke kepulauan Nusantara. Namun tidak mudah bagi Indra dan Arya menguasai bangsa-bangsa di wilayah kepulauan. Dalam peperangan, Indra sempat di kalahkan oleh penguasa Nusantara. Karenanya, pemujaan Siva masih tetap bertahan di sana-sini dan terus melakukan perlawanan.

Puncak perlawanan itu dilakukan oleh Ravana atau Rahuvana, anak asli Jambhudwipa dari bangsa Rakhsa. Sedikit demi sedikit Ravana menyusun kekuatan, membangkitkan semangat juang anak-anak asli Jambhudwipa untuk mengalahkan penjajah dan menempatkan Siva sebagai petinggi dewa-dewa. Perjuangan itu berhasil. Keberhasilan ini tak lepas dari kesaktian dan ketinggian ilmu Ravana. Selagi masih kecil Ravana beserta adiknya Kumbhakarna telah dididik oleh pandita dan raja-raja besar. Ravana pun menguasai ilmu sastra dan agama. Dengan ketinggian puja bhaktinya, dewa-dewa mengasihi Ravana dan menganugerahkan berbagai kesaktian dan kemuliaan.

Ini adalah kunci penting dalam penafsiran ulang penulis atas kisah Ramayana. Pertarungan dalam Ramayana bukan sekedar pertarungan antara Ravana melawan Rama, melainkan pertarungan untuk memperjuangkan kebebasan bangsa-bangsa asli Jambhudwipa yang diwujudkan dalam sosok Ravana dan Siva, melawan bangsa agresor yang telah merebut tanah leluhur dan menghancurkan sesembahan asli mereka. Ravana adalah simbol pahlawan bangsa Jambhudwipa. Melalui Ravana kekuasaan Indra digoyahkan. Indraloka, singgasana Dewa Indra, sempat diporak-porandakan oleh angkatan bersenjata Ravana. Dan, kerajaan Alengka di Srilanka yang dipimpin oleh Ravana menjadi kerajaan besar yang disegani. Alengka menjadi simbol kemenangan bangsa Jambhudwipa atas bangsa barbara Arya sang penjajah. Alengka dibangun oleh Ravana bukan sekedar mengandalkan kekuatan bala tentara, melainkan juga dengan budaya, agama, tata krama, ilmu pengetahuan. Dibantu saudara-saudaranya, seperti Kumbhakarna dan Bhisana, Ravana membangun peradaban luhur di tanah Alengka.

Kehebatan Ravana mengganggu Indra dan Arya. Mereka masih menganggap bahwa derajat bangsa asli Jambhudwipa yang hitam itu di bawah bangsa Arya yang putih. Maka dengan berbagai upaya Indra berusaha melemahkan Alengka. Melawan dengan bala tentara rasanya tidak mungkin. Indra masih bergetar dengan pengalaman dikalahkan oleh putra Ravana yang bergelar Indrajit (penakluk Indra). Karenanya, Indra mencari jalan lain, yaitu memecah belah bangsa Jambhudwipa dan pengkhianatan. Untuk itu, diutuslah Rama dan Laksmana yang ditemani istri Rama: Sita.

Satu persatu taktik kelicikan dijalankan oleh Rama. Puncaknya adalah ketika Rama membantu Sugriva merebut tahta Bali dengan cara curang: membokong Bali dari belakang. Untuk membalas budi, Sugriva mengerahkan pasukan Wanara yang dipimpin Hanoman menyerang Alengka. Saat itu Ravana sudah cukup tua, berumur 70 tahun dan lebih banyak menghabiskan waktunya memimpin negeri bak seorang pandita. Di belakang Ravana, ada adik tirinya: Bhisana yang menyimpan rencana keji ingin menguasai Alengka. Bhisana yang kepergok berkhianat kemudian diusir dari Alengka dan dijuluki Bibhisana. Bhisana pun merapat ke pasukan Rama.

Bagian yang paling dramatis adalah Yudhakanda, cerita tentang pertempuran sengit antara pasukan Alengka dan Ayodya. Satu per satu pahlawan Alengka gugur. Yang membuat sangat tragis kekalahan Alengka lebih disebabkan karena pengkhianatan Bibhisana yang membocorkan berbagai rahasia Alengka kepada Rama. Ravana pun gugur di tangan Rama. Sang pahlawan besar, ksatria pandita, maharaja agung itu wafat akibat pengkhianatan adiknya sendiri.

Cerita belum berakhir.

Sita terbebaskan. Namun Rama meragukan kesucian Sita. Rama curiga bahwa Sita telah dijamah oleh Ravana. Sita berkeras bahwa ia masih suci meski telah ditahan Ravana sekian lama. Untuk membuktikannya Sita melompat ke atas api yang berkobar-kobar. Jika memang Sita telah ternoda, maka ia akan hangus dilalap api. Ternyata Sita masih suci. Api yang berkobar itu tidak sedikit pun menyentuh kulitnya. Ini sekaligus membuktikan bahwa Ravana memanglah seorang raja agung yang beradab dan mulia. Meski dalam bayangan Ravana, Sita adalah titisan dari Vidavati, wanita cantik yang telah membuatnya jatuh cinta, namun Ravana tetap menempatkan Sita pada kedudukan dan kemuliaan tinggi sebagai seorang wanita. Tidak sekali pun Ravana menodai Sita meski Sita berada dalam tawanannya.

Rama masih tidak percaya. Menurutnya, Sita telah ternoda Ravana. Buktinya, api pun tidak bisa menghanguskan Sita, itu berarti Sita telah mendapat berkah dari seseorang yang mampu menguasai api. Dan, satu-satunya orang yang mampu menguasai api adalah sang raja diraja Ravana. Sita diusir.

***

Melalui Rahuvana Tattwa, Agus Sunyoto berhasil menulis epik baru. Sebuah epik besar dengan menempatkan Rahwana sebagai simbol kepahlawanan. Di novel tebal ini, Agus Sunyoto mampu mengubah sosok Rahwana yang demonic dan monsteric menjadi sosok penuh keagungan. Itu bukan hal yang mudah, mengingat cerita Ramayana sudah menjadi salah satu epos besar dunia. Untuk itu, Agus Sunyoto tidak asal bercerita, ia menggali berbagai sumber untuk menguatkan penafsirannya. Agus Sunyoto menulis dengan cukup subtil sehingga kita bisa mengembangkan berbagai kisah hebat baru dari novelnya ini.

Jika novel ini bisa menarik perhatian para penulis dan pembabar lain, maka sungguh bisa diharapkan lahirnya cerita-cerita lain yang mendukung Rahuvana Tattwa, dan menciptakan epos besar lain.

Ini novel yang sangat memikat dan cerdas.

Jika anda siap mengubah sudut pandang anda terhadap Ramayana, silakan baca novel ini. Namun, jika anda masih menganggap Rama adalah sang pujaan, silakan baca Ramayana, setidaknya yang ditulis oleh Nyoman S. Pendit.

Om Ale
19 Februari 2007