Santri Baru Gede

Zaki Zarung, Matapena, Agustus 2005, vi + 258 hlm

Seperti kebanyakan remaja, masa baru gede dalam kehidupan santri juga dipusingkan dengan problem pencarian eksistensi dan ketertarikan dengan lawan jenis. Hanya saja, cerita santri baru gede sudah pasti tetap menawarkan sesuatu yang unik dan jarang-jarang dijumpai di luar yang namanya kehidupan pesantren.

Catet yah! Kenapa demikian? Pertama, karena santri tinggal dalam lingkungan yang penuh dengan berbaris-baris peraturan. Jadi, tidak bisa berlaku asal-asalan dan seenaknya sendiri kalau tidak mau mendapat teguran seksi Keamanan. Kedua, jatah waktu santri tak sebanyak pilihan dan keinginan yang ada dalam benaknya. Di sini ia harus pintar-pintar memilah, atau juga berkompromi, kalau tidak mau dibikin bingung sendiri. Ketiga, sementara tak ada orang tua yang selama dua puluh empat jam bisa menggandengnya dan menjadi tempat pencarian solusi. So, dia harus pintar-pintar cari yang namanya sahabat dan orang gede yang bisa diajak ngobrol.

Seputar tiga itulah Zaki mengolah jalan cerita lewat tokoh Irahadi, alias Raha, dalam Santri Baru Gede. Misalnya bagaimana Raha harus berhadapan dengan seksi Keamanan karena ketahuan bolos ngaji gara-gara jalan-jalan ke Malioboro. Mendapat teguran karena lebih memilih ekskul daripada kegiatan pesantren. Dan, yang tak kalah serunya, ia harus maju mundur menghadapi Filan. Antara berprinsip, santri sejati tidak boleh “dekat-dekat” cewek, selain karena urusannya bakal runyam kalau ketahuan seksi Keamanan, dengan mendengar suara hatinya yang jelas-jelas naksir adik kelasnya itu. Terus, endingnya kira-kira gimana yah?

Yang jelas, sejak berkenalan dengan Mas Oji, pelatih teater, Raha perlahan-lahan mulai stabil dengan ke-diri-annya. Menentukan apa yang baik untuk ia lakukan, juga pandangannya soal cinta, pacaran, dan perempuan.

Maksudnya, ending Raha dengan Filan?

Oh, jelas happy ending. Cuma, proses menuju ending itu yang benar-benar menunjukkan uniknya santri yang baru gede, dan menarik buat dibaca.😉