Santri Nekat

Otto Sukatno, Matapena, Februari 2006, iv + 176 hlm

Jaka tertangkap basah mencuri di pesantren Kiai Hasan. Ia memang babak belur terkena pukulan nyasar para santri. Selama satu bulan, sesuai kesepakatan, ia juga dihukum oleh sang kiai untuk mengelola perairan pesantren ples mengumandangkan azan tiap waktu shalat tiba. Tapi boleh jadi, peristiwa pagi itu merupakan berkah tiada tara buat dirinya. Berkah mendapatkan tempat tinggal dan pengobatan, makan minum gratis, uang jatah tiga ribu rupiah per hari, lingkungan hidup yang lebih terjamin dari sebelumnya, dan berkah mendapat cinta dari puteri kiai yang cantik, Ummu Mufidah.

Masalahnya, bisakah Jaka mempertahankan berkah itu? Termasuk berkah mempersunting puteri kiai? Preman yang tidak jelas asal usulnya. Biasa mencuri dan bermain dengan perempuan, di masa lalunya?

Oho. Kayaknya sih berat! Untungnya Jaka orang yang nekat. Orang nekat biasanya tak kenal kata menyerah. Masa hukuman yang hanya satu bulan, bisa ia ulur hingga berbulan-bulan. Untuk melancarkan jurus maut pada si Ummi, dan untuk membalik logika sepadan bobot, bibit, bebet dalam pernikahan yang dipegang kukuh oleh Pak Kiai. Jaka memang pintar, berhasil membuat orang tua Umi Mufidah itu mengerutkan kening dan berpikir-pikir.😉