Santri Semelekete

Ma’rifatun Baroroh, Matapena, Agustus 2005, vi + 200 hlm

Apa jadinya kalau cewek seperti Endang Jamilah jadi seorang santri? Cewek anggota geng G@sinx di SMA-nya yang suka ngerjain guru dan ngusilin anak-anak yang kelihatan rada alim, culun, atau bego. Atau kalau enggak ngumpul-ngumpul bikin acara sambil ngerumpi dan menggosip?

Jawabannya, pertama, dia akan bersenandung pilu, “Betapa malang nasibku…” ketika pertama kali memasuki pintu gerbang pesantren. Setelah melihat teman-temannya yang sekarang adalah gadis-gadis berjilbab, berpakaian kolot gedombrohan. Ada yang pakai daster kayak orang hamil, ada yang pakai sarung kedodoran. Jiwanya meronta-ronta, memberontak ingin lepas. Tapi, ia merasa belum mampu untuk keliaran hidup sendiri mencari duit.

Kedua, ia akan ambruk pingsan usai membaca qonun pondok pesantren yang berbaris-baris itu. Barisan peraturan sekolah aja nggak sepanjang itu.

Ketiga, ketika Enjoy dapat kamar baru, pasti ia bakal terkaget-kaget ples heran. Kok beda banget sama peraturan yang di kantor pondok itu. Ia hampir nggak percaya melihat bermacam-macam poster menempel di dinding. Ada gambar Spiderman, Batman, Sakhrukh Khan, Micky Mouse, Avril Lavigne, Iwan Fals, dan Harry Poter. Apalagi di pojokan ada yang lagi asyik manggut-manggut dan geleng-geleng kepala mengikuti irama musik dengan walkman. Sementara mbak Desi sang kepala suku malah lagi asyik mbaca novel Fredy S! Kemudian ia akan bertanya, “Mbak, kok aneh sih. Ini kan melanggar peraturan?”

Keempat, Enjoy akan merasa sangat beruntung menjadi anggota kamar yang “gue banget” itu. Ternyata pesantren tidak seseram yang ia bayangkan.

Tapi, kelima, tetep saja ia bermasalah dengan tugas rutin nyuci baju, ngantri mandi, dan catet! Piket nyuci piring punya anak sekamar. Dan, bisa dipastikan untuk tugas yang terakhir ini, harus ada piring yang dikorbankan alias pecah! Keenam, tetep juga dipakai kalah-kalahan sama kakak seniornya. Ketujuh, ia juga tetep enggak bisa tidur malam gara-gara harus berdesak-desakkan, apalagi di deket Vita yang belum mandi sore. Sementara di samping kirinya si Fera lagi garuk-garuk kepala sambil didis. Meloroti rambutnya helai demi helai mencari telur kutu dengan penuh kenikmatan. Sesekali terdengar bunyi “kletik!” Belum lagi bunyi “Tiuut. Bess!” yang ikutan menambah pengap suasana.

Kedelapan, Enjoy bakalan susah memendam bakat masa lalunya. Dari suka belanja habis-habisan, diam-diam keluar buat dugem, sampai naksir sama ustadznya sendiri.
Kesembilan, ia juga masih berbakat buat ngelabrak cowok-cowok yang coba main-main dengannya.

Kesepuluh, Enjoy perlu suplemen untuk membuatnya bertahan di pesantren.Pastinya begitu. Dan, suplemen itu untungnya sudah Enjoy temukan di ending cerita.🙂