Santri Tomboy

Shachree M. Daroini, Matapena, Maret 2006, vi + 180 halaman

Di mata teman-teman santri, Amalia Zarqo’ Zaituna adalah sosok tomboy yang pemberani. Ia paling tidak suka melihat teman-teman puterinya dibuat kalah-kalahan sama anak-anak putera. Sekali saja ia menemukan kejadian itu, tanpa segan-segan ia akan mengeluarkan jurus labrak dan bombardir peluru kemarahannya.

Zarqo’ juga tak pernah bisa diam. Apalagi yang ada hubungannya sama peraturan-peraturan yang mengikat di pesantren. Bakat usil dan ‘nakal’-nya tak pernah jera mengajaknya berpetualang, Meskipun buntutnya adalah berhadapan dengan bagian Keamanan pesantren.

Hingga suatu saat, dengan kamera pinjaman sang kakak, tanpa sengaja ia berhasil merekam pelanggaran yang dilakukan pengurus pesantren, di sebuah alun-alun kota. Dari sinilah petualangan Zarqo’ dimulai. Ia merasa bertanggung jawab untuk membongkar ketidakadilan hukum di pondoknya. Bagaimanapun pengurus adalah santri juga, dan punya kewajiban untuk menaati peraturan. Jika melanggar, sepatutnya juga mendapatkan sanksi.

Tapi, ternyata perjuangan Zarqo’ tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ia harus berhadapan dengan semangat nepotisme para pengurus dan image miring tentang kenakalannya. Hasilnya, ia malah dituduh menyebar fitnah karena tanpa sengaja ia kehilangan barang bukti kaset kamera yang terbawa kakaknya. Untunglah, Zarqo’ tak pernah putus asa. Meskipun rambut kepalanya sudah habis digundul bagian Keamanan, ia tetap percaya diri, menjadi sosok tomboy yang pemberani dari Bilik Santri ;))